Tampilkan postingan dengan label thariqat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thariqat. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Saya Belum Siap Ber-Thariqat ?

Kebanyakan orang yang saya ajak untuk menempuh jalan spiritual mengungkapkan berbagai alasan senada sebagai isyarat penolakan.”Saya belum siap. Saya masih muda, saya masih kotor masih banyak dosa. Saya terlalu repot dengan urusan pekerjaan, urusan kantor,” begitu rata-rata alasan mereka. Rasa takut untuk tidak bisa mengamalkan wirid  juga menjadi  alasan.


Kepada yang masih muda saya sering mengatakan, sepertinya dia tau kalau jatah umurnya sampai tua sehingga merasa perlu menunggu sampai tua untuk  bertaubat kepada Alloh SWT. Padahal kita semua tau bahwa umur sudah ditetapkan dan kita semua tidak tau kapan kontrak hidup kita di dunia akan berakhir. Umur sewaktu-waktu bisa datang menjemput tanpa kompromi dan tanpa ada alasan apapun yang bisa menghalanginya.

Masihkah anda menunggu tua untuk bisa bertaubat, apakah anda yakin kalau umur anda sampai 60, 70 atau lebih dari itu ? Apakah perbuatan dosa di usia muda tidak akan dimintai tanggung jawab oleh Sang Pencipta kelak ?

“Bersegeralah kamu menuju pengampunan Tuhanmu”

Anda sudah harus mempertagungjawabkan semua perbuatan di hadapan-Nya sejak akil  baligh, rata-rata mulai umur 15 tahun  untuk laki-laki dan 9 tahun untuk perempuan.

Kepada yang mengatakan khawatir tidak sanggup mengamalkan wirid, saya katakan kepadanya, mengapa tidak khawatir mengapa tidak takut ketika hendak mempersunting wanita, ketika hendak berumah tangga. Padahal kalau dihitung tanggung jawab terhadap istri , anak-anak dan keluarga jauh lebih berat baik lahir maupun batin, dunia dan akhiratnya ketimbang menjaga amalan wirid ini.

Mengapa tidak ada kekhawatiran saat hendak menikah ? Karena saat itu yang ia bayangkan adalah kehidupan manis dibalik pernikahan. Mau menikmati sorga dunia yang selama ini diimpikan. Mau hidup serumah bersama orang yang dicintai dan apapun akan dilakukan demi keinginan yang dicintainya itu. Bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kalau perlu lembur siang malam demi mewujudkan tanggung jawabnya.

Adakah pengantin baru yang sempat berpikir kesulitan dibalik pernikahan, adakah yang ragu-ragu yang maju mundur karena takut tidak bisa menjaga istrinya?

Semua pengantin baru akan berpikir kebahagiaan, kenikmatan dan kemudahan dibalik akad nikahnya. Sehingga segala kesulitan dan tanggung jawab akan terlupakan, dan akan bisa dilakukan dengan ringan karena rasa cintanya yang besar.

Mengapa sedikit orang yang bisa berpikir semacam ini ketika hendak mengikatkan diri menjadi murid spiritual, yang tugas dan tanggung jawabnya tidak serumit dan sebesar ikatan pernikahan? Mengapa ketika hendak memasuki dunia spiritual yang tergambar di wajahnya semuanya hal yang menyulitkan, yang mengkhawatirkan yang manakutkan. Mengapa bukan “Ajran ‘adziima” (ganjaran yang agung) , sorga , dan kenikmatan  yang dia rasakan seperti ketika hendak menikah?

“Sesungguhnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan”

Terhadap mereka yang  sibuk, banyak urusan kantor, sering di perjalanan dan merasa  tidak ada waktu untuk berdzikir bersama.Astaghfirullohal ‘adzim. Apa mereka pikir kesibukan dunianya itu lebih utama ketimbang aktifitas akhirati. Apa mereka pikir yang namanya hal penting hanya urusan kantornya, yang lainnya dianggap tidak penting, lalu agama mereka anggap tidak penting ?

“Ingatlah , waktu yang kita habiskan akan dimintai pertangungjawaban. Apakah habis untuk dunia ? Inikah yang dibangga-banggakan ? Astaghfirulloh.

Betapa banyak orang katakutan luar bisa mengikuti kegiatan spiritual akan menganggu urusan kerjanya. Mereka takut kalau-kalau nanti urusan kerjanya terganggu oleh urusan agama.   

Mengapa anda seperti orang yang sedang mabok ? Apakah memang betul anda sedang dimabok cinta ? Cinta terhadap sesuatu yang fana  sehingga lupa terhadap keabadian. Yang utama dianggap remeh dan yang remeh dianggap mulia, sehingga anda perjuangkan dengan penuh pengorbanan? Bukankah akhirat lebih layak anda perjuangkan mati-matian?

Tidakkah  berpikir sebaliknya. “Ah, nggak ah saya tidak mau akhiratku terganggu  hanya karena urusan bisnis. Nggak ah, saya tidak mau mengorbankan agama hanya karena perintah bos yang ngawur. Nggak ah, akhiratku lebih utama ketimbang urusan sepele seperti ini”.

Ini bukanlah soal dikotomi dunia akhirat. Akhirat adalah tempat panen dan dunia adalah sawah ladangnya. Dunia mestinya menjadi ladang subur akhirat pada setiap aktifitasnya.

Anda boleh saja membantah dan membela diri dengan “urusan kerja kan bisa jadi urusan akhirat”, . Jawabannya ya. Itulah seharusnya. Tapi apakah anda meniatkan pekerjaan anda untuk akhirat ? Karena itulah sarat awalnya. Benarkah untuk bekal ibadah ? Kalau iya mengapa anda meninggalkan ibadah saat anda bekerja ? . Berhati-hati di sini akan ada pihak ke tiga yang mencuri hati dan pikiran anda.

Tempatkanlah Dunia setelah Akhirat:

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir”, (An-Nahl:107)

“Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Alloh, dan mereka itulah orang-orang yang lalai (An-Nahl: 108).


“Ya Alloh , tempatkanlah kami dalam golongan orang-orang yang shalih yang taat kepada-Mu”. Selamatkanlah dunia dan akhirat kami. Amin. Wallohu A’lam. ###

Minggu, 05 Oktober 2014

CATATAN Tentang THARIQAT

Oleh: Agus Maryono S Ag


Taqorrub Ilalloh (Mendekatkan diri kepada ALLOH) adalah satu kalimat yang sering disampaikan oleh para da’I atau mubaligh dalam kesempatan ceramah agama Islam. Kedekatan diri seorang hamba kepada Alloh merupakan di antara buah dalam menjalankan Ibadah kepada-Nya. Dengan kedekatan diri dengan Sang-Khaliq menunjukan eksistensi seorang muslim di-hadapan-Nya diakuai dan dicintai . Pengakuan , Keridhoan dan Kecintaan Khaliq kepada Mahkluk-Nya menjadikan sang mahluk memperoleh bermacam Anugerah , hadiah, bonus serta kemudahan lain dalam hidup ini yang terkadang tidak pernah terpikirkan oleh sang makhluq.

              


Jika kita menyintai seseorang mungkin kekasih, anak, atau orang tua bukan hal yang mustahil atau aneh kalau tiba-tiba kita ingin memberikan suatu surprise atau kejutan dengan memberikan barang yang ia cintai.

Begitu juga Alloh SWT Yang Maha Tau yang dengan apa-apa yang tersembunyi di dalam kalbu hamba-Nya dengan Kekuasaan-Nya yang tak terbatas sangat berkuasa untuk memberikan hal yang diimpikan atau bahkan sama sekali belum terbersitkan oleh hati hamba-Nya itu. Hal itu mungkin tentang suatu kejadian yang akan membuatnya bahagia yang membuatnya terpana takjub akan karuniaNya.

Dengan Cinta-Nya itu pula Yang Maha Rahman dan Rahim akan selalu menununtun dan melindungi hamba-hamba terkasihnya agar selalu di jalan yang benar dan membebaskannya dari bencana-benacana yang membahyakannya.

Oleh karena itulah menjadi wajar kalau Taqorrub IlALLoh sering didengungkan oleh para mubaligh agar diupayakan dan dicapai oleh manusia.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah semudah itukah ? Ternyata tidak selamanya mudah, terkadang terlalu sulit. Sulit kita untuk bisa meraih kedekatan bersmaNya. Hanya manusia yang mendapatkan anugerah saja yang bisa mencapai posisi dekat kepada Rabbul ‘Izzah.

Berdekatan diri dengan Alloh adalah hal yang teramat sulit kalau kita tidak tau tata caranya. Jangankan dengan Sang Pencipta yang mensyaratkan kebersihan luar dalam ,Ikhlas total , semua peribadatan yang ditujukan kepadaa-Nya. Untuk bisa mendekati boss dikantor saja tidak semua orang bisa, padahal sang boss bisa saja dikelabuhi dengan istilah asal boss senang (ABS). Tapi jangan harap anda bisa menipu Tuhan dengan berpenampilan ulama, pura-pura santun kepada fakir miskin, dengan sorban dan jubah yang harum dan panjang, dengan jidat hitam , dengan bergaya Kiai ?

Tidak, tidak segampang itu. Walaupun puluhan bahkan ratusan juta yang anda sumbangkan untuk masjid, namun karena pujian manusia yang anda tuju , maka bukan kedekatan dengan Sang Khaliq yang diraih, tapi justru semakin jauhlah dari Tuhan walaupun mungkin anda banyak didekati manusia.

Diperlukan ilmu dan pembimbing khusus agar anda bisa menjadi seorang yang bisa sampai kepada Alloh (wushul).

IKHLAS HATI

Ikhlas salah satunya. Satu kata yang ringan diucapkan namun sangat berat untuk diwujudkan, adalah salah satu tanda dari sekian banyak adab dari seseorang yang telah sampai kepada kehadirat Alloh SWT. Ikhlas adalah amalan hati bukan amalan lisan. Walaupun seribu kali lisan kita mengatakan Ikhlas dalam setiap pemberian atau amalan namun lain di hati, maka bukan ikhlas namanya. Tuhan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di hati hamba-hamba-Nya.

Atau mungkin benar bahwa dengan senang hati kita memberikan sesuatu namun tujuannya bukan Ridho Alloh, tapi mungkin ridho orang banyak, ini bukan ikhlas, ini riya namanya yang akan menghancurkan dan mesia-siakan amalan kita kelak.

Riya merupakan salah satu penyakit hati yang menghancurkan dan menjauhkan hamba dari Tuhannya.

Hati manusia bisa bersikap iklhas , terbebas dari riya, kalau hati itu bersih dari noda. Untuk urusan keberseihan hati ini, dan bagaimana cara mengelolanya semuanya diajarkan dalam Ilmu Thariqat.

Thariqat adalah salah satu ilmu khusus yang diantara tujuan utamanya adalah untuk mengetahui hakikat kedirian manusia lahir dan bathin. Memberdayakan manusia sesuai fitrahnya yang berasal dari langit (ruh) dan bumi (jasad). Dengan unsure langit yang telah diberdayakan dan dikelola dengan baik menjadikan manusia akan bisa mengetahui cahaya ruhani dan sifat-sifatnya serta sampai pada seluk beluk hati , kekuatan dan kelemahannya termasuk penyakit-penyakitnya.

Dengan mengetahui macam-macam penyakit hati yang bersarang di dalam tubuh kemudian berupaya mengobati dan mencegahnya adalah bagian dari pelajaran di ilmu Thariqat. Ilmu yang akan menghantarkan anda kehadirat Ilahi.

Dengan mengetahui potensi sekaligus kelemahan anda baik secara fisik maupun ruhaninya kemudian mensucikan kedua unsur tersebut itulah yang akan menghantarkan anda ke dalam kedekatan diri pada sang Khaliq.

Sebagaimana kita ketahui diri kita terdiri dari dua unsur dhahiry (fisik) dan batiny (ruh) maka ibadah terhadap-Nya pun terdiri dua aturan yakni ibadah lahir dan ibadah ruhiyah batin.

Yang pertama diatur dalam hukum-hukum syariat seperti apa dan bagimana shalat secara syar’i yang benar, sarat sahnya, rukun-rukunnya dan yang membatalkannya. Itu semua diatur dalam hukum syariat fiqh. Namun apakah shalat hanya selesai dan cukup sampai di situ, tidak. Shalat secara sempurna haruslah disertai kehadran hati (khusuk) . Dengan kehadiran hati inilah maka shalat bisa menimbulkan apa yang disebut tanha ‘anil fahsa wal munkar’. Memerlukan banyak persyaratan hati bisa ikut khusuk shalat .

Nah, bagaimana agar persyaratan itu terpenuhi, bagaimana cara mencapainya bukanlah hal yang mudah pula. Hati harus benar-benar bersih dari segala macam noda dan penyakit untuk bisa khusuk hadir dan bertemu dengan Khaliq.

Ilmu yang mempelejari kondisi ahwal hati dan cara membersihkan serta menterapinya agar menjadi hati yang bersih menjadi hati yang sehat menjadi hati yang selamat (qolbun salim) inil dipelajari secara sistematis dalam Thariqat.

Ilmu yang mengajak umat Islam mencapai kesempurnaan ibadah tidak saja pada tingkat syariaty tapi juga haqiqaty. Ilmu yang mengajak kita tidak saja paham akan diri kita secara lahir tetapi juga secara batin. Dengan kesempurnaan diri baik secara lahir maupun batin itulah yang akan mengantarkan kita berdekatan dengan Khaliq.

Bagaimana menuju jalan dekat terhadap Alloh Swt , tidaklah mudah harus ada pembimbing ada guru mursyid. Untuk bisa shalat secara lahiry saja perlu guru maka apalagi untuk bisa shalat secara haqiqy sangat diperlukan pembimbing. Secara teknis mengenai liku-ilku dan bagimana sebuah perjalanan seharusnya ditempuh ada dalam ilmu Thariqat ini , yakni Ilmu bagaimana menuju jalan mencapai kedekatan dengan Alloh Swt.

Maka tidak ada jalan lain bagi siapapun yang ingin menjadikan ibadahnya maksimal secara lahir maupun batin kecuali haruslah mau mempelajari Ilmu Tasawuf yang tekhnisnya , prakteknya diajarkan oleh Ilmu Thariqat. Tanpa hal itu nampaknya sulit dicapai kualitas ibadah sesungguhnya .

Oleh karena itulah Rasululloh Saw, pernah mengingatkan kepada para sahabatnya, banyak orang yang shalat dan berpuasa namun hanya mendapatkan kepenatan dan dahaga saja. Mengapa ? karena hati mereka lalai dalam sholat, hati mereka tidak ikut berpuasa hanya perutnya saja yang berpuasa.

Imam besar Ulama ahli Tasawuf terkemuka yakni, Syeh Abil Hasan as-Syadzily bahkan mengatakan, siapapun yang tidak berkecipung dan mendalami ilmu tasawuf maka dikhawatirkan akan mati membawa dosa besar sedang dirinya tidak menyadarinya.

Maksiat Lahir dan Maksiat Batin


Sebagaimana ibadah ada ibadah lahir dan ibadah batin maka perbuatan dosa juga demikian . Perbuatan dosa tidak saja dilakukan oleh anggota tubuh , namun dilakukan pula oleh hati atau yang disebut maksiat batin, seperti kufur nikmat, suka bersu’udhon atau berburuk sangka baik terhadap manusia maupun pada Tuhan atau bahkan kepada diri sendiri. Tamak, riya, ujub bangga dengan diri sendiri, sombong adalah bentuk-bentuk maksiat batin yang lain.

Dengan ilmu tasawuf dengan thariqat diajarkan bagimana hati bisa beribadah dan bagimana membersihkan dan mencegahnya dari segala macam dosa dan penyakitnya. Ilmu tasawuf adalah ibarat resepnya,teorinya dan thariqat adalah langkah menebus obat serta meminumnya.

Lalu bagaimana orang-orang yang tidak pernah memasuki wilayah ini ? Jika mampu mencapainya dengan jalan sendiri , maka silahkan saja. Namun kendatipun secara syariaty mungkin mumpuni maka tidak ada jaminan hatinya bersih dari segala noda dan dosa. Bahkan terdapat potensi besar menjadi orang yang sombong bagi orang-orang yang memiliki banyak kekayaan baik kaya harta benda maupun ilmu pegetahuan, ilmu agama sekalipun. Maka, mencari peredamnya adalah sebuah hal yang sangat penting dilakukan.

Lalu bagaimanakah tahapan untuk mengecap ilmu thariqat ? Jawabannya adalah, Temukan Guru Mursyid , carilah di mana beliau berada. Bukankah untuk sekedar mengobati jantung yang bocor banyak yang sampai ke luar negeri ? Mengapa tidak untuk mencari dokter penyembuh ruhani yang jauh lebih penting ? Dan jangan kwatir di Indonesia banyak Mursyid Thariqat yang sangat mumpuni di bidangnya.

Untuk referensi, di Jawa Tengah, diantaranya ada Habib Lutfhi di Pekalongan (Mursyid Thariqat Syadziliyah), KH. Abu Hamid (Mursyid Syadziliyah ) Pengasuh Pon.Pes. Al-Ikhsan, Beji,Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. Kemudian KH. Syarif Nurkholis ,Pon.Pes Karangwangkal Purwokerto Utara, Banyumas (Mursyid TQN). Alhamdulillah, penulis dipertemukan dan berkesempatan menjadi murid beliau-beliau ini. Allohummarhamhum.

Masih banyak lagi , semoga pada tulisan yang akan datang bisa penulis sebutkan para Mursyid yang ada di Tanah Air. Salam. Jika anda sudah menemukan Guru Mursyid yang pembimbing anda, maka Selamat Menempuh Perjalanan. 

Masihkan anda ragu untuk meniti jalan spiritual? Wallohu A'alam.###

“Allohummahdina Shiraathal Mustaqiem”

Jumat, 03 Oktober 2014

ROBITHOH dengan Guru

Suatu hari ini saya merasakan sebuah kejenuhan yang entah dari mana sumbernya. Saya tidak tau persis mengapa itu terjadi. Tiba-tiba perasaan rindu kepada dua orang tua yang tinggal di kampung muncul begitu saja. Tidak jauh rumah yang saya tempati di Purwokerto dengan rumah orang tua di Cilacap. Jika lancar , satu jam perjalanan adalah jarak tempuh cukup santai.

Saya pun memutuskan untuk pulang kampung untuk sowan kepada kedua orang tua ,khususnya Ibu yang sering memunculkan rasa kangen itu. Sebenarnya belum lama, saya mengunjunginya sebelum ini, kurang lebih satu bulanan.

Begitu sampai di tanah kelahiran, ternyata Ibu saya juga dalam kondisi mengharapkan saya pulang. Mereka mengatakan sudah sejak kemarin ngarep-arep kedatangan saya. Ohh..ternyata....ini dia penyebab kegundahan hati yang sejak kemarin saya rasakan , sekarang ketemu jawabannya. Yakni, dirindukan oleh orang tua tercinta yang paling dekat secara lahir dan batin.

Dan benar saja sejak mencium tangan Ibu, kejenuhan seketika lenyap, hati rasanya bugar, perasaan pun kembali fress plong rasanya. Gumpalan yang menyumbat perasaan itu sudah pergi entah ke mana pula. Alhamdulillah.

Intinya, bahwa perasaan yang kuat dari orang-orang yang kita cintai , memang bisa nyetrum (bahasa jawa), terhadap hati kita. Apalagi jika kita juga mencintai orang tersebut, maka tingkat sensitifitasnya akan lebih tajam.

Ibnul Qoyim al-Jauziyah dalam bukunya yang membahas tentang Ruh manusia, diantaranya mengatakan, bahwa ruh itu adalah sesuatu yang sangat halus, yang sangat mudah mempengaruhi satu sama lain. Bahkan ruh itu menurutnyaa bisa langsung merasakan terhadap orang-orang yang setipe dan yang berlawanan atau berpotensi bermusuhan dalam sekali pertemuan.

Nah , kondisi ruh manusia yang halus inilah yang mudah berinteraksi inilah kiranya bisa menjelaskan tentang ajaran "Robithoh" dalam pendidikan Thariqat. Robithoh adalah upaya mengkoneksikan diri dengan Guru Mursyidnya dengan cara membayangkan wajah Guru Mursyid. Dan kekuatan robithoh ini sangat membantu murid dalam menempuh perjalanan spiritualnya. 

Dengan seringnya ruh sang murid yang masih lemah melakukan koneksi dengan ruh guru yang sudah kuat, memungkinkannya untuk menjadi mudah menapaki beratnya dzikir. Dengan koneksi itu pula memungkinkan kekuatan jahat yang akan mengganggu sang murid bisa diatasi dengan bantuan guru kendati secara fisik jaraknya mungkin ribuan kilometer. Mudah saja dipahami, kabel listrik buatan manusia walaupun jauh bisa menyalakan lampu neon yang jaraknya ribuan km.

Nah , apalagi ruh manusia Ciptaan Yang Maha Perkasa , akan jauh lebih cepat dan kuat dari barang-barang buatan manusia itu. Wallohu A'alam. ###thariqat aswaja

Selasa, 16 September 2014

Thariqat dan Kesaktian



Oleh:  Gus Mar

Seorang teman mengatakan, bahwa amalan thoriqohnya ternyata sangat manjur untuk mengobati suatu penyakit. Bahkan juga joss untuk sebuah permohonan, karena pernah diminta tetangganya yang ingin menjadi perangkat desa dan dengan wiridannya itu hajatnya terkabul dengan mudah.

Wah, dia nampak bangga dengan apa yang telah dilakukannya itu. Tapi aku menanggapinya dengan dingin saja. Sebagai sesama pengamal thoriqoh aku tidak bangga sama sekali, bahkan prihatin dengan apa yang menimpa sahabatku itu.

Memang dia mengamalkan thoriqoh yang sama denganku hanya lain guru mursyid. Dan hasilnya memang agak berbeda. Setelah saya telusuri ternyata dia sangat jarang bertatap muka dengan gurunya. Bahkan tidak ada jadwal rutin atau tawajuhan bersama guru sebagaimana yang aku lakukan dengan sesama ihkwan satu mursyidku.

Di sini terlihat menjadi sangat penting intensitas pertemuan bersama guru bagi para pengamal thoriqoh. Mengapa ? karena segudang penghalang, segudang istidroj siap menghadang di tengah jalan yang kadang bentuknya sangat halus. Kalau kurang bimbingan dari guru mursyid bisa-bisa amalan thoriqohnya lambat laun menyimpang. Beralih fungsi menjadi amalan ilmu hikmah dan kesaktian tanpa terasa.

Memang tidak ada salahnya mengobati orang yang sedang sakit dan membutuhkan pertolongan, juga membantu doa terhadap sesama yang membutuhkan dengan amalan thoriqohnya. Namun kalau itu dituruti lama-lama syaitan bisa mencuri-curi kesempatan dari praktik tersebut. Selain itu ketulusan niat dalam berdzikir juga bisa terganggu, apalagi bagi mereka yang tidak mendapat bimbingan intensif dari gurunya.

Contoh kasus, karena ternyata sembuh mengotabi suatu penyakit, tetangga lain suatu saat akan minta bantuan yang sama dan seterusnya sehingga namanya kemudian akan dikenal sebagai seorang penyembuh yang ampuh.

Kemungkinan terjadi penyimpangan dari ajaran thoriqoh bisa dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, terlena oleh pujian orang karena doanya dikenal mujarab. Di sini keikhlasannya didalam berdzikir terancam. Dzikirnya yang semestinya “Ilahi anta maqsudi wa rdhoka mathlubi” menjadi terkontaminasi dengan hasrat menyembuhkan. Hanya orang-orang yang sudah benar-benar istiqomah dan memiliki daya tahan ruhani kuat yang bisa terhindar dari ancaman ini.

Kedua, kalau diteruskan dan sang pelaku enjoy dalam kegiatan ini, maka dia akan lebih dikenal sebagai penyembuh dan bisa beralih menjadi dukun bukan ahli thoriqoh yang mengedepankan Ridho Alloh. Maka orang mendekatinya karena sebuah hajat duniawi bukan karena urusan akhirat.

Ketiga, Syaithon akan bertepuk tangan karena merasa ada kesempatan emas untuk menyimpangkannya lebih jauh lagi. Contoh kasus, iblis mungkin akan membuat suatu penyakit kepada seseorang yang sulit diobati. Dan iblis bisa saja hadir dalam mimpi salah satu atau banyak keluarga si sakit untuk memberitakan bahwa yang bisa menyembuhkan adalah si anu (yang sedang diperdaya amalannya). Dan perdaya syaithan akan berhasil si sakit sembuh. Setelah menjadi tidak ikhlas,karena semangat wiridnya untuk keberhasilannya dalam menyembuhkan  dia juga terancam menjadi takkabur. Merasa hebat, merasa doanya mujarab , merasa top yang akan diperkuat dengan puji-pujian banyak orang.

Keempat, syaithan pun bisa menyimpangkannya ke dalam lembah yang lebih hina dan menyesatkan. Suatu saat akan ada pasien yang tidak bisa disembuhkan. Dan giliran sang penyembuh yang akan didatangi iblis lewat mimpinya sendiri. Dan itu tidak sulit bagi iblis atas orang yang sudah rusak amalan-amalannya oleh sifat-sifat riya dan  takabur.

Dalam mimpinya iblis bisa saja menjelma sebagi sosok alim, berjubah layaknya ulama suci seraya  memberikan arahan bagaimana caranya untuk menyembuhkan pasiennya itu. Cara-cara yang diajarkan akan mulai dari yang halus, misalkan dengan mengajarkan satu doa dari surat-surat tertentu untuk mengelabuhi orang yang sedang mabuk pujian ini. Pada kasus yang lain, akan berangsur-angsur ke cara-cara yang subhat dan bahkan haram, seperti harus diobti di kamar yang gelap, harus telanjang bulat, harus tengah malam, harus dengan sentuhan telapak tangan.

Bisa dibayangkan, kalau sang penyembuhnya muda, yang disembuhkan juga gadis cantik seksi, kebetulan sakitnya ada di payu dara atau bagian tubuh sensitive lainnya. Begitu seterusnya akan terus menyusul penyesatan-penyesatan tiada ujung.

Maka yang terbaik ketika datang permintaan semacam itu, demi keselamatan amalan thoriqohnya , demi lurusnya niat, demi ikhlasnya amal, demi terhindar dari sifat-sifat riya dan takabur, lebih baik menolak segala macam permintaan pengobatan atau hajat-hajat duniawi. Serahkan saja kepada ahlinya. Sangat beresiko dan berbahaya akibatnya.

Kecuali dalam kondisi darurat di mana harus melakukan pertolongan , ya tidaklah mengapa itupun tetap dengan menjaga penuh rasa tawakal dan ridhonya. Bukan untuk jambalan, bukan meladeninya dengan perasaan bangga.

Semoga kita semua diselamatkan dari tipu daya syaithan yang terkutuk. Semoga kita termasuk orang-orang yang disematkan di dunia dan akhirat. Amin.  Wallohu A'alam.###

_____ 

       



Sabtu, 13 September 2014

Bangunan Yang Runtuh


Adakalanya sebuah bangunan itu memang harus dirobohkan. Dirobohkan karna perlu perbaikan di sana-sini agar tidak membahayakan penghuninya dan orang lain.

Barangkali bangunan itu nampak megah dari luarnya, namun bisa jadi rentan ambruk karna kurang kokoh pondasinya. Maka tidak ada jalan lain kecuali harus merehab pondasi tersebut.

Ketika perombakan dilakukan, biasanya rumah atau bangunan tersebut perlu dikosongkan terlebih dahulu agar memudahkan dalam perbaikannya.

Demkian pula dalam hal membangun spiritualitas seseorang. Adakalanya bangunan megah yang sudah dimilikinya perlu untuk ditinggalkan sementara demi memperbaiki pondasi keimanan jika memang dirasa belum kuat. Mengapa, karna bisa membahayakan dirinya dan para pengikutnya .

Bagaimana hal itu bisa terjadi ? Untuk lebih lengkapnya bisa baca di tautan berikut ini: Bangunan yang Perlu Dirobohkan . ###

__ salam dari Purwokerto, Jawa Tengah__